Internalisasi Nilai Tafsir Ekologis Abdul Mustaqim sebagai Solusi Edukatif Krisis Sampah di Yogyakarta: Perspektif Relasi Triadik
Keywords:
Krisis Sampah, Yogyakarta, Ekoteologi, Abdul Mustaqim, Tafsir EkologiAbstract
The temporary closure of the Piyungan Final Disposal Site (TPA) in 2022 due to overcapacity has triggered a severe waste crisis in the Special Region of Yogyakarta. Unsightly and malodorous mounds of waste accumulated across various corners of the city, forcing the reopening of a landfill that had originally been slated for closure since 2012. This recurring crisis, which resurfaces every time the Piyungan landfill is shut down, highlights the weaknesses in the waste management system and the low ecological awareness of the community as upstream waste producers. In this context, Javanese local wisdom, such as the philosophy of hamemayu hayuning bawana—which emphasizes harmony between God, humans, and nature—offers a relevant ecological perspective.This article is a qualitative study employing a literature review approach that aims to analyze the waste crisis in Yogyakarta through an ecological interpretation of the Qur'an and examine its connection to Javanese local wisdom. Data analysis was conducted through an interpretive approach and a literary sub-approach to interpret the relational meanings between the text, cultural values, and the reality of the environmental crisis. Abdul Mustaqim's ecological exegesis (tafsir) serves as the primary analytical framework to understand the triadic relationship between God, humans, and nature. The findings indicate that this Javanese philosophy aligns with the ecotheological paradigm in the Qur'an. Developing awareness of the harmonious relationship between God, humans, and nature is essential as part of a sustainable environmental solution, particularly in efforts to address the waste crisis in Yogyakarta.
Keywords: Waste Crisis, Yogyakarta, Ecotheology, Abdul Mustaqim, Ecological Interpretation
ABSTRAK
Penutupan sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan pada tahun 2022 akibat kelebihan kapasitas telah memicu krisis sampah yang serius di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunungan sampah yang kotor dan berbau menyebar di berbagai sudut kota, memaksa pembukaan kembali TPA yang sejatinya sudah direncanakan tutup sejak 2012. Krisis ini berulang setiap kali TPA Piyungan ditutup, memperlihatkan lemahnya sistem pengelolaan sampah dan rendahnya kesadaran ekologis masyarakat sebagai produsen sampah di bagian hulu. Dalam konteks ini, nilai-nilai kearifan lokal Jawa, seperti falsafah hamemayu hayuning bawana yang menekankan keselarasan antara Tuhan, manusia, dan alam, menawarkan perspektif ekologis yang relevan. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yang bertujuan menganalisis krisis sampah di Yogyakarta melalui tafsir ekologis Al-Qur’an serta mengkaji keterkaitannya dengan kearifan lokal Jawa. Analisis data dilakukan melalui pendekatan interpretatif dan sub pendekatan sastra untuk mengintripretasikan relasi makna antara teks, nilai budaya, dan realitas krisis lingkungan. Tafsir ekologis Abdul Mustaqim menjadi pisau analisis utama untuk memahami relasi triadik Tuhan, manusia, dan alam. Hasil kajian menunjukkan bahwa falsafah Jawa tersebut sejalan dengan paradigma ekoteologis dalam Al-Qur’an. Kesadaran terhadap relasi harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam perlu dibangun sebagai bagian dari solusi keberlanjutan lingkungan, khususnya dalam upaya mengatasi krisis sampah di Yogyakarta.
Kata kunci: Krisis Sampah, Yogyakarta, Ekoteologi, Abdul Mustaqim¸Tafsir Ekologi
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Schemata: Jurnal Pascasarjana UIN Mataram

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Schemata: Jurnal Pascasarjana UIN Mataram is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


